Hikmah: Mengetahui Lebih Dekat 3 Putra dan 4 Putri Rasulullah

Back to Journal

Wednesday, December 6, 2017
6:46 PM

Hikmah: Memahami Lebih Dekat 3 Putra serta 4 Putri Rasulullah   

Berbicara tentang putra dan cewek Rasulullah SAW termasuk pembicaraan yang langka diangkat. Tidak ganjil, sebagian orang Islam tidak mengerti berapa jumlah putra dan bikir beliau maupun siapa saja nama buahhatinya. Enam dari tujuh anak Rasulullah terlahir dari ummul mukminin Khadijah binti Khuwailid radhiallahu ‘anha. Rasulullah memuji Khadijah dengan sabdanya, “Ia sudah beriman kepadaku ketika orang-orang ateis kepadaku, ia pernah membenarkan saya tatkala beberapaorang mendustakan aku, ia telah membantuku oleh hartanya tatkala orang-orang menahan hartanya tiada membantuku, dan Allah pernah menganugerahkan darinya anak-anak tatkala Allah tiada menganugerahkan kepadaku kanak-kanak dari wanita-wanita yang lain,” (HR Ahmad no.24864) Saat sira mengucapkan perkataan ini, beliau belum menikah atas Maria al-Qibtiyah. Imam an-Nawawi rahimahullah berkata, “Rasulullah memiliki tiga orang anak; yang pertama Qasim, namanya menjadi makan Rasulullah (Abul Qashim). Qashim dilahirkan sebelum kenabian dan wafat ketika berusia 2 tahun. Yang kedua Abdullah, dibilang juga ath-Thayyib ataupun ath-Tahir karena lahir sehabis kenabian. Putra yang ketiga yaitu Ibrahim, dilahirkan di Madinah tahun 8 H dan wafat kala berusia 17 atau 18 bulan. Adapun putrinya berjumlah 4 orang; Zainab yang menikah dengan Abu al-Ash bin al-Rabi’, keponakan Rasulullah dari kolom Khadijah, kemudian Fatimah menikah oleh Ali bin Abi Thalib, lalu Ruqayyah beserta Ummu Qultsum menikah dengan Utsman bin Affan. Rinciannya yaitu sebagai selanjutnya : Putri-putri Rasulullah Para ulama akur bahwa total putri Rasulullah terdapat 4 orang, semuanya terlahir dari kandungan ummul mukminin Khadijah radhiallahu ‘anha. Pertama, putri pertama Rasulullah ialah Zainab binti Rasulullah. Zainab radhiallahu ‘anha menikah dengan anak bibinya, Halah binti Khuwailid, yang berlabel Abu al-Ash bin al-Rabi’. Pernikahan ini berjalan sebelum sang ayah diangkat menjadi rasul. Zainab dan ketiga saudarinya masuk Islam sebagaimana ibunya Khadijah menerima Islam, akan namun sang suami, Abu al-Ash, mantap dalam agama jahiliyah. Hal ini membuat Zainab tidak ikut hijrah ke Madinah bersama ayah dan saudari-saudarinya, karena ikatannya dengan sang suami. Beberapa lamban kemudian, barulah Zainab hijrah dari Mekah ke Madinah menyelamatkan agamanya dan berjumpa dengan si ayah tercinta, lalu menyusullah suaminya, Abu al-Ash. Abu al-Ash pun mengucapkan dua wacana syahadat dan memeluk agama mertua dan istrinya. Keluarga kecil yang ceria ini pun berbaur kembali dalam Islam lalu iman. makam nabi muhamad lama kebahagiaan tersebut berjalan, pada tahun 8 H, Zainab wafat meninggalkan Abu al-Ash dan bikir mereka Umamah. Setelah itu, sering-kali Umamah diasuh oleh kakeknya, Rasulullah SAW . Sebagaimana dalam sabda disebutkan beliau menggendong cucunya, Umamah, selagi shalat, apabila sira sujud, sira meletakkan Umamah dari gendongannya. Kedua, Ruqayyah binti Rasulullah. Ruqayyah radhiallahu ‘anha dinikahkan oleh Rasulullah oleh sahabat yang terkemuka Utsman bin Affan radhiallahu ‘anhu. Keduanya turut dan berhijrah ke Habasyah kala musyrikin Mekah sudah amat keterlaluan dalam menindas dan memilukan orang-orang yang menganut. Di Habasyah, pasangan yang mulia ini dianugerahi seorang putra yang disapa Abdullah. Ruqayyah dan Utsman pula turut bersama dalam hijrah yang kedua dari Mekah menuju Madinah. Selagi tinggal di Madinah mereka dihadapkan atas ujian wafatnya ananda tunggal mereka yang telah berusia 6 tahun. Tak lama kemudian, Ruqoyyah juga menderita sakit meriang yang tinggi. Utsman bin Affan setia memelihara istrinya dan nyalar mengawasi keadaannya. Kala itu bersamaan atas terjadinya Perang Badar, berdasarkan permintaan Rasulullah bakal mejaga putrinya, Utsman pun tiada bisa ikut serta dalam pertempuran ini. Wafatlah ruqayyah bersamaan bersama kedatangan Zaid bin Haritsah yang memberitahukan kemenangan umat Islam di Badar. Ketiga, Ummu Kultsum binti Rasulullah. Sesudah Ruqayyah wafat, Rasulullah menikahkan Utsman atas putrinya yang lain, Ummu Kultsum radhiallahu ‘anha. Oleh karena itulah Utsman dipanggil dzu nurain (pemilik dua cahaya) lantaran menikahi dua cewek Rasulullah, sebuah kelebihan yang tidak dipunyai sahabat lainnya. Utsman lalu Ummu Kultsum bersama-sama membangun rumah tangga hingga wafatnya Ummu Kultsum pada bulan Sya’ban tahun 9 H. Keduanya enggak dianugerahi putra atau putri. Ummu Kultsum dimakamkan berdampingan dengan saudarinya Ruqayyah radhiallahu ‘anhuma. Keempat, Fatimah binti Rasulullah. Fatimah radhiallahu ‘anha adalah putri penghabisan Rasulullah SAW . Ia dilahirkan lima tahun sebelum kenabian. Pada tahun kedua hijriyah, Rasulullah menikahkannya oleh Ali bin Abi Thalib radhiallahu ‘anhu. Pasangan ini dikaruniai putra pertama pada tahun ketiga hijriyah, beserta anak tersebut dinamai Hasan. Kemudian anak kedua lahir pada bulan Rajab satu tahun berikutnya, dan dipanggil Husein. Anak ketiga mereka, Zainab, dilahirkan pada tahun keempat hijriyah dan dua tahun berjarak lahirlah putri mereka Ummu Kultsum. Fatimah ialah anak yang paling mirip dengan Rasulullah SAW dari gaya cakap dan gaya berjalannya. Bila Fatimah datang ke rumah sang ayah, ibubapaknya selalu menyambutnya atas menciumnya dan bercokol bersamanya. Kecintaan Rasulullah atas Fatimah tergambar dalam arahan: “Fatimah adalah bagian dariku. Barangsiapa mengakibatkannya marah, lalu dia pula telah membuatku berang,” (HR. Bukhari) Beliau pula bersabda: “Sebaik-baik perempuan penduduk firdaus adalah Khadijah binti Khuwailid, Fatimah binti Muhammad, Maryam binti Imran, Asiah bin Muzahim, indukberas Firaun,” (HR. Ahmad). Satu-satunya anak Rasulullah yang hidup kala beliau wafat ialah Fatimah, kemudian beliau pula keluarga Rasulullah yang pertama yang menyusul beliau. Fatimah radhiallahu ‘anha wafat enam bulan setelah sang ayah tersayang wafat meninggalkan dunia. Ia wafat pada 2 Ramadhan tahun 11 H, dan dimakamkan di Baqi’. Putra-putra Rasulullah Pertama, al-Qashim bin Rasulullah. Rasulullah berkunyah atas namanya, beliau dikenal Abu al-Qashim (bapaknya Qashim). Qashim lahir sebelum masa kenabian serta wafat saat usia dua tahun. Kedua, Abdullah bin Rasulullah. Abdullah dinamai pula dengan ath-Thayyib ataupun ath-Thahir. Ia dilahirkan pada era kenabian. Ketiga, Ibrahim bin Rasulullah. Ibrahim dilahirkan pada tahun 8 H di Kota Madinah. Dia merupakan anak terakhir dari Rasulullah SAW , dilahirkan dari rahim Maria al-Qibthiyah radhiallahu ‘anha. Maria ialah seorang benduan yang diberikan Muqauqis, pejabat Mesir, kepada Rasulullah. Terus Maria mengucapkan pengakuan dan dinikahi oleh Rasul SAW . Usia Ibrahim enggak panjang, ia wafat pada tahun 10 H saat berusia 17 atau 18 bulan. Rasulullah sangat bersedih oleh kepergian putra kecilnya yang menjadi penyejuk hatinya ini. Kala Ibrahim wafat, Rasulullah bersabda, “Sesungguhnya mata ini melimpahkan air mata dan hati ini bersedih, akantetapi kami tak mengatakan suatu yang tidak diridhai Rab aku. Sesungguhnya kami bersedih dengan kepergianmu wahai Ibrahim,” (HR. Bukhari). Bila kita cermati perjalanan hidup Rasulullah bersama anak-anaknya, mesti kita dapati pelajaran serta hikmah yang meluap. Allah Ta’ala mengaruniakan beliau anak dan puti yang merupakan tanda kesempurnaan dia sebagai orang. Namun Allah juga mencoba sira dengan mengambil satu masing-masing satu anaknya sebagaiman lampau mengambil satu per satu orang tuanya tatkala beliau membutuhkan mereka; ayah, mama, kakek, lalu pamannya. Hanya anaknya Fatimah yang wafat setelah UtusanTuhan Muhammad SAW . Allah juga tak memperpanjang baya putra-putra beliau, salah satu hikmahnya ialah agar beberapaorang tidak mengkultuskan putra-putranya atau mengangkatnya menjadi Nabi setelah sira. Bisa kamu lihat, cucu ia Hasan dan Husein saja suah membuat orang-orang yang lemah terfitnah. Mereka membesarkan kedua cucu beliau melebih yang semestinya, bagaimana barangkali kalau putra-putra dia dipanjangkan usianya lalu memiliki kemasukan? Tentu tentu menimbulkan celaan yang lebih besar. Hikmah dari wafatnya putra dan cewek Nabi SAW pun sebagai cermin bagi beberapaorang yang kehilangan salah satu ananda atau cewek mereka. saat kehilangan anaknya, Nabi SAW bersabar beserta tidak melisankan perkataan yang enggak diridhai Allah. Ketika satuorang kehilangan salah satu buahhatinya, maka Rasulullah telah kehilangan dekat semua anaknya